Gubernur Malut Sherly Kagumi Setepeng Agro Semarang, Siap Adopsi Program Pemberdayaan Ekonomi
Nasional

Gubernur Malut Sherly Kagumi Setepeng Agro Semarang, Siap Adopsi Program Pemberdayaan Ekonomi

D
Devi Sry Atmaja 22 Oktober 2026 · 2 penayangan

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos mengungkapkan kekagumannya terhadap wisata edukasi Stepeng Agro di Kabupaten Semarang. Ia hadir dalam peresmian Stepeng Agro Wisata Edukasi atau SAE di Lingkungan Sidorejo, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, pada Rabu (30/9/2026). Acara tersebut digelar bersama Reda Manthovani dan Bupati Semarang Ngesti Nugraha. Sherly memberikan apresiasi tinggi terhadap berbagai program pemberdayaan yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut. Ia menilai konsep yang dikembangkan sangat relevan untuk diterapkan di wilayahnya. Pihaknya berencana mengadopsi dan mengimplementasikan program serupa di Maluku Utara. Pengalaman langsung di lokasi menjadi bekal berharga bagi pengembangan ekonomi lokal.

“Sangat bagus dan baik program-program yang dijalankan untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat seperti budidaya ayam petelur dan lele ini nantinya bisa diterapkan di Maluku Utara,” ujar Sherly. Ia menambahkan bahwa pengalaman di Semarang sangat baik untuk diimplementasikan di daerahnya. Maluku Utara saat ini masih dalam proses pembentukan dan pendaftaran Aslinmas.

Stepeng Agro Wisata Edukasi memiliki total luas 2,2 hektare. Kawasan ini berada di Lingkungan Sidorejo, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Di area tersebut tersedia berbagai fasilitas yang dirancang khusus sebagai pusat pelatihan peternakan, perikanan, dan pertanian. Tujuan utamanya adalah mendorong kesejahteraan masyarakat setempat. Fasilitas yang tersedia meliputi kandang ayam petelur, kolam ikan bioflok untuk budidaya nila dan lele, serta greenhouse. Program ini dirancang sebagai sarana pembinaan ekonomi mandiri bagi masyarakat sekaligus anggota Asosiasi Perlindungan Masyarakat atau Aslinmas. Anggota Aslinmas dilibatkan agar memperoleh pendapatan tambahan dari kegiatan budidaya. Reda Manthovani menjelaskan bahwa Stepeng Agro dikembangkan tanpa mengandalkan APBD maupun APBN. Pendanaan berasal dari kepedulian para pengusaha lokal melalui skema Corporate Social Responsibility atau CSR. 

“Program tersebut dijalankan tanpa mengandalkan APBD, melainkan memanfaatkan kepedulian para pengusaha lokal melalui skema Corporate Social Responsibility. Dalam pelaksanaannya melibatkan Aslinmas untuk mendapatkan pendapatan tambahan,” ujarnya. Menurut Reda, agro wisata SAE merupakan bentuk perhatian pengusaha kepada masyarakat, Aslinmas, dan Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional atau Abpednas. Ia berharap model serupa dapat didorong di seluruh Indonesia. 

“Insya Allah seluruh Indonesia akan kami dorong tidak pakai anggaran dari pemerintah, baik itu APBD atau APBN tapi dari teman-teman pengusaha lokal masing-masing daerah. Mereka akan kami libatkan, kepeduliannya akan kami gugah bersama-sama,” jelasnya.

Reda menegaskan bahwa penguatan anggota Aslinmas di setiap wilayah akan menjaga keamanan di perkampungan dan pedesaan. Jika keamanan terjaga, iklim berusaha menjadi lebih aman sehingga pengusaha pun merasa tenang. Sinergi antara keamanan dan pemberdayaan ekonomi menjadi kunci keberlanjutan program. Model ini diharapkan dapat direplikasi di daerah lain. Bupati Semarang Ngesti Nugraha menjelaskan bahwa kawasan wisata edukasi ini dikembangkan untuk memfasilitasi berbagai kalangan. Sasaran program meliputi petani milenial, masyarakat umum, anggota Aslinmas, Badan Permusyawaratan Desa, hingga aparatur sipil negara maupun non-ASN yang akan memasuki masa pensiun. Mereka diharapkan memperoleh keterampilan praktis sebelum mengakhiri masa dinas.

Ngesti berharap keberadaan Wisata Edukasi Stepeng tidak hanya menjadi sarana belajar budidaya yang efektif. Program ini juga diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat setempat. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh warga sekitar. Pengembangan kawasan menjadi investasi jangka panjang bagi daerah. Kehadiran Gubernur Maluku Utara dalam peresmian tersebut menunjukkan minat daerah lain terhadap model pemberdayaan berbasis komunitas. Sherly melihat potensi besar untuk menyesuaikan konsep SAE dengan karakteristik Maluku Utara. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu opsi yang dinilai mudah diadaptasi. Kolaborasi antar daerah dapat memperkuat ekosistem pemberdayaan nasional.

Setepeng Agro menjadi contoh konkret bagaimana inisiatif lokal dapat tumbuh tanpa bergantung pada anggaran pemerintah. Keterlibatan pengusaha melalui CSR menjadi motor penggerak utama. Di sisi lain, pelibatan Aslinmas memberikan nilai tambah berupa penghasilan tambahan sekaligus penguatan peran sosial. Model ini dinilai berkelanjutan dan berorientasi pada kemandirian. Peresmian SAE di Kabupaten Semarang menjadi momentum penting bagi penguatan ekonomi kerakyatan. Konsep wisata edukasi yang memadukan peternakan, perikanan, dan pertanian membuka ruang pembelajaran praktis. Masyarakat tidak hanya belajar, tetapi juga dapat langsung terlibat dalam kegiatan produktif. Pendekatan ini sejalan dengan semangat membangun dari desa.

Topik

Memuat tag...